Palu, noticeupdate.id – Pengurus Wilayah X Sulawesi Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (PW X ISMEI) menyatakan keprihatinan mendalam atas anjloknya nilai tukar Rupiah yang kini menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Menurut ISMEI, kondisi tersebut tidak sekadar menjadi indikator statistik, melainkan peringatan serius terhadap ketahanan ekonomi nasional. Dampaknya dinilai akan langsung dirasakan masyarakat, khususnya kelompok akar rumput melalui penurunan daya beli.
Pelemahan Rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak, hingga kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat. Namun demikian, ISMEI Wilayah X Sulawesi menilai faktor domestik juga memiliki peran penting yang perlu segera dievaluasi.
Koordinator ISMEI Wilayah X Sulawesi, Ahmad Aprilyansah Tompo, menegaskan bahwa posisi Rupiah saat ini berada pada titik kritis.
“Rupiah di angka Rp17.000 adalah titik kritis. Jika tidak segera diintervensi dengan kebijakan yang taktis dan fundamental, kita akan menghadapi risiko inflasi barang impor yang akan memukul sektor UMKM dan menurunkan standar hidup masyarakat luas. Pemerintah dan Bank Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada narasi ‘fundamental ekonomi kuat’ tanpa aksi nyata di pasar,” ujarnya.
Menyikapi kondisi tersebut, ISMEI Wilayah X Sulawesi menyampaikan sejumlah tuntutan dan rekomendasi kepada pemerintah dan otoritas terkait.
Pertama, ISMEI mendorong Bank Indonesia untuk melakukan intervensi agresif dengan mengoptimalkan instrumen moneter. Langkah ini tidak hanya melalui intervensi di pasar valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN), tetapi juga memastikan efektivitas implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) guna menjaga likuiditas dolar di dalam negeri.
Kedua, pemerintah diminta melakukan efisiensi anggaran dengan mengevaluasi belanja negara yang tidak mendesak. ISMEI juga menekankan pentingnya memperkuat bantalan sosial bagi kelompok rentan yang terdampak kenaikan harga bahan pokok akibat pelemahan nilai tukar.
Ketiga, ISMEI menyoroti pentingnya kedaulatan pangan dan energi. Menurut mereka, pelemahan Rupiah menjadi bukti bahwa ketergantungan terhadap impor di sektor tersebut merupakan kelemahan mendasar yang harus segera diatasi melalui program substitusi impor dan optimalisasi sumber daya lokal.
Selain itu, ISMEI juga mengimbau pelaku ekonomi, khususnya pelaku usaha besar, untuk memprioritaskan penggunaan Rupiah dalam transaksi domestik serta menghindari spekulasi valuta asing yang dapat memperburuk kondisi pasar.
ISMEI Wilayah X Sulawesi menegaskan akan terus mengawal perkembangan nilai tukar dan siap mengonsolidasikan seluruh Senat Mahasiswa Ekonomi se-Indonesia guna menghadirkan kajian kritis serta solusi konkret bagi pemerintah.
Mereka juga menyatakan komitmen untuk memastikan kebijakan ekonomi yang diambil berpihak pada kesejahteraan masyarakat luas, bukan semata-mata kepentingan pasar spekulatif.












