Cerita dari Dapur: Kerja Tengah Malam Demi Gizi Ribuan Orang

by -54 Views
Foto: Dok Angel
banner 468x60

NOTICE UPDATE, PALU – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini masih menuai berbagai protes di sejumlah daerah. Mulai dari persoalan teknis hingga distribusi, menjadi catatan yang terus disorot.

Namun di balik itu, program ini tidak hanya berbicara tentang pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Lebih dari itu, MBG juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.

banner 336x280

Salah satu gambaran itu terlihat di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) AAA Jaya Abadi yang dilaksanakan di Yayasan Ummu Alyssa Putri, Desa Baliase, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Di tempat ini, aktivitas justru dimulai ketika sebagian besar warga masih terlelap.

Jarum jam menunjuk pukul 01.00 dini hari. Uap panas mengepul dari panci-panci besar, sementara puluhan relawan mulai bergerak dalam ritme yang sama—menyiapkan ribuan porsi makanan untuk didistribusikan ke sekolah dan posyandu.

Nilam, salah satu tim pengolahan, sudah lebih dulu berada di lokasi sejak tengah malam.

“Saya mulai masuk kerja jam 12 malam, kemudian aktivitas memasak dimulai sekitar jam 1 dini hari. Awalnya memang terasa berat karena harus menyesuaikan waktu istirahat, tapi lama-lama sudah terbiasa,” ujarnya Rabu (22/4/2026) pagi.

Ia mengaku, pekerjaan ini memberi dampak besar bagi kehidupannya, terutama dalam menopang ekonominya pribadi.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa bekerja di sini dan saya sudah dapat beli motor . Dampaknya sangat terasa. Harapan saya program ini bisa terus berlanjut karena manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.

Di balik aktivitas dapur yang berlangsung sejak dini hari itu, ada sistem kerja yang terus dijaga agar tetap berjalan sesuai standar. Dian Godong, asisten lapangan, menjadi salah satu yang memastikan semua proses berjalan dengan baik.

“Tugas kami di lapangan memastikan seluruh penerima manfaat mendapatkan makanan sesuai dengan data yang sudah diajukan oleh pihak sekolah dan posyandu. Selain itu, kami juga memastikan relawan bekerja sesuai dengan tugas di masing-masing divisi, dan proses distribusi berjalan lancar,” jelasnya.

Menurut Dian, tantangan terbesar justru datang dari dalam tim, terutama di awal pelaksanaan program.

“Di awal memang cukup menantang, terutama menyatukan persepsi puluhan relawan agar bisa bekerja sesuai SOP yang ada. Tapi seiring waktu, dengan komunikasi yang terus dibangun, semua bisa teratasi dan sekarang sudah berjalan lebih baik,” ujarnya.

Ia pun mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari program tersebut, karena dampaknya tidak hanya dirasakan penerima manfaat, tetapi juga para pekerja di dalamnya.

“Program ini sangat membantu, khususnya dalam menambah penghasilan dan membantu perekonomian keluarga. Harapan kami tentu program ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Baliase, Agus Prasetyo, menjelaskan bahwa sejak mulai beroperasi pada November 2025, jumlah penerima manfaat terus mengalami peningkatan yang signifikan.

“Awalnya kami mulai dengan sekitar 997 penerima manfaat. Seiring berjalannya waktu, saat ini sudah mencapai 2.997 penerima manfaat. Kami melayani sekitar 18 sekolah dan tiga posyandu di Desa Baliase,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penerima manfaat tidak hanya berasal dari kalangan siswa, tetapi juga mencakup kelompok rentan lainnya.

“Selain siswa, penerima manfaat juga termasuk tenaga kependidikan seperti staf tata usaha, petugas kebersihan, dan keamanan sekolah. Kemudian juga ibu hamil, ibu menyusui, serta balita melalui posyandu,” jelas Agus.

Menurutnya, jumlah penerima manfaat bersifat dinamis, menyesuaikan kondisi di lapangan.

“Seperti hari ini ada siswa yang libur, tentu jumlahnya ikut menyesuaikan. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan pihak sekolah dan posyandu agar data yang digunakan tetap akurat,” katanya.

Di sisi lain, Agus menegaskan bahwa program ini juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Dari total sekitar 50 orang yang terlibat di dapur ini, sebagian besar 30 persen merupakan masyarakat lokal Desa Baliase. Kami memang mengutamakan tenaga kerja lokal agar mereka juga bisa merasakan manfaat langsung dari program ini,” ujarnya.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait teknis di lapangan.

“Secara teknis tentu ada kendala, baik dari sisi waktu maupun koordinasi. Tapi itu menjadi bahan evaluasi bagi kami agar ke depan bisa lebih baik. Kuncinya adalah komunikasi yang terus dijaga antara SPPG, sekolah, dan posyandu,” jelasnya.

Di tengah berbagai tantangan dan protes yang masih muncul, Agus menilai program ini tetap memiliki tujuan besar yang harus dijaga bersama.

“Kami berharap program ini bisa berjalan dengan baik, membawa berkah, dan yang paling penting adalah kebutuhan gizi masyarakat bisa terpenuhi, terutama untuk anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui,” katanya.

Ia pun menutup dengan ucapan terima kasih.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, yang telah menginisiasi program ini,” tutupnya. (Ngel)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.