Suasana Kantor Desa Labuan Toposo tampak dipenuhi warga pada, Senin (11/5/2026). Mereka datang membawa satu tuntutan yang sama yaitu menolak aktivitas tambang emas yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat.
Aksi yang berlangsung sejak pagi itu diikuti oleh sejumlah tokoh masyarakat, pemuda, hingga ibu-ibu desa. Massa berkumpul di halaman kantor desa sambil menyampaikan aspirasi secara bergantian. Beberapa di antaranya membawa poster berisi penolakan terhadap aktivitas pertambangan yang disebut-sebut akan masuk ke wilayah mereka.
Dalam orasinya, warga menilai keberadaan tambang emas tidak hanya berpotensi merusak lingkungan, tetapi juga mengancam sumber penghidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian dan hasil alam lainnya.
“Kalau gunung rusak dan air tercemar, kami mau hidup dari apa? Kami tidak mau meninggalkan warisan kerusakan untuk anak cucu kami,” ujar mutu pemuda Labuan Toposo
Warga juga menyoroti potensi dampak sosial yang sering muncul di wilayah tambang, mulai dari konflik lahan hingga perubahan kondisi sosial masyarakat desa.
Aksi berlangsung dalam suasana tegas namun tetap kondusif. Aparat desa terlihat menerima aspirasi masyarakat dan mendengarkan tuntutan yang disampaikan. Sejumlah perwakilan warga meminta pemerintah desa agar tidak memberikan dukungan terhadap aktivitas pertambangan yang ditolak oleh masyarakat.
Selain itu warga juga meminta agar pemerintah Desa berdiri dibarisan masyarakat dalam upaya penolakan tambang.
Bagi warga Labuan Toposo, persoalan tambang bukan sekadar soal investasi. Mereka menilai ada ancaman jangka panjang terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir maupun pegunungan di wilayah tersebut.
Gelombang penolakan terhadap tambang emas sendiri belakangan mulai ramai disuarakan di sejumlah daerah. Kekhawatiran utama masyarakat umumnya berkaitan dengan potensi kerusakan hutan, pencemaran air, hingga dampak ekologis lain yang dinilai sulit dipulihkan.
Sementara itu, hingga aksi berlangsung, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun instansi terkait mengenai tuntutan warga tersebut.
Aksi di Kantor Desa Labuan Toposo ini menjadi penanda bahwa isu tambang emas masih menjadi persoalan sensitif di tengah masyarakat. Di satu sisi, investasi sering dipromosikan sebagai jalan pembangunan. Namun di sisi lain, warga mempertanyakan harga yang harus dibayar ketika lingkungan dan ruang hidup mereka ikut dipertaruhkan.














